Sekwan DPRD Bali Pelajari Sistem Pengendalian Banjir Canggih DKI Jakarta
JAKARTA — Kunjungan Sekretariat DPRD (Sekwan) Bali bersama awak media ke Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menjadi langkah strategis untuk memperkaya wawasan mengenai pengendalian banjir dan pengelolaan sumber daya air. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta dan dipimpin langsung oleh Sekwan DPRD Bali, I Ketut Nayaka.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan diterima oleh Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas SDA DKI Jakarta, Nugraha Ariadi atau yang akrab disapa Medi. Ia memaparkan berbagai strategi yang selama ini diterapkan Pemprov DKI Jakarta untuk menangani banjir yang kerap melanda ibu kota.
DKI Jakarta Terapkan Sistem Digital Pengendalian Banjir
Medi menjelaskan, Dinas SDA DKI Jakarta telah menerapkan digitalisasi sistem pengelolaan air dan banjir melalui aplikasi Flood Early Warning System (FEWS). Sistem ini terhubung secara langsung dengan Posko Banjir, BMKG, dan BPBD sehingga memungkinkan pemantauan kondisi air secara real-time.
Pemantauan dilakukan melalui ribuan CCTV yang tersebar di pintu-pintu air, GPS alat berat, serta dashboard pelaporan banjir. Informasi tinggi muka air dari pos-pos pantau seperti Katulampa, Manggarai, dan Karet dapat diakses publik kapan pun.
baca juga : Kebakaran di Pondok Kelapa Berhasil Dipadamkan
“Melalui sistem ini, kami bisa mengetahui kondisi banjir dari hulu hingga hilir secara langsung. Setiap perubahan debit air akan terdeteksi dan diinformasikan secara cepat,” jelas Medi.
Sistem Serupa Akan Diterapkan di Bali
Sekwan DPRD Bali, I Ketut Nayaka, mengungkapkan bahwa sistem serupa tengah diupayakan oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk mendukung mitigasi bencana banjir. Menurutnya, pembelajaran dari DKI Jakarta menjadi bekal penting dalam merancang sistem peringatan dini yang efektif di Bali.
“Kita belajar dari pengalaman DKI agar kejadian banjir bandang di Bali tidak terulang lagi. Dari sini kita mendapat informasi komprehensif yang akan disampaikan kepada pimpinan dan dikaji lebih lanjut sesuai kewenangan daerah,” ujar Nayaka.
Sistem Peringatan Dini dan Koordinasi Antarwilayah
Medi menuturkan, pembangunan sistem peringatan dini banjir di Jakarta melibatkan wilayah hulu seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Jika tinggi muka air di Bendung Katulampa mencapai status siaga satu, maka dalam beberapa jam air akan mengalir ke Jakarta.
“Warga langsung mendapat notifikasi agar bisa bersiap dan mengamankan harta bendanya. Tujuan utama sistem ini adalah melindungi keselamatan warga,” ujarnya.
Selain itu, titik-titik pengungsian juga telah ditentukan dan terhubung dengan sistem informasi kebencanaan milik Pemprov DKI Jakarta, sehingga koordinasi dapat dilakukan secara cepat dan terarah.
Ribuan Pasukan dan Ratusan Armada Disiagakan
Dinas SDA DKI Jakarta juga mengandalkan 3.943 personel lapangan yang dikenal sebagai ‘Pasukan Biru’. Mereka bertugas menjaga kebersihan saluran air dan memastikan pompa air berfungsi optimal.
baca juga : Polda Metro Serap Aspirasi di Satkamling Kelapa Gading
Untuk mendukung operasional, tersedia 557 pompa stasioner di 190 lokasi, 627 pompa mobile, 258 alat berat, serta 449 dump truck. Seluruh armada dilengkapi GPS tracker untuk memantau posisi, jam kerja, dan penggunaan bahan bakar.
“Jika ada dump truck keluar dari area kerja, sistem akan berbunyi alarm. Jadi, seluruh pergerakan bisa kami pantau secara langsung,” tutur Medi.
Teknologi Virtual Reality dan Penggelontoran Sungai
Selain sistem pemantauan digital, Dinas SDA juga menggunakan teknologi Virtual Reality (VR) untuk mengoperasikan pompa jarak jauh dari pusat kendali. Teknologi ini membantu efisiensi kerja, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem atau banjir mendadak.
Dalam hal pemeliharaan, Medi menyebut pihaknya rutin melakukan penggelontoran lumpur dan sedimen sungai. Berdasarkan rekapitulasi tahun 2021–2025, total volume penggelontoran di lima wilayah Jakarta mencapai 4.077.840,35 meter kubik.
Rinciannya meliputi:
-
Jakarta Timur: 2.030.799,07 m³
-
Jakarta Pusat: 989.655,34 m³
-
Jakarta Utara: 648.734,94 m³
-
Jakarta Barat: 497.103,39 m³
-
Jakarta Selatan: 233.339,34 m³
Langkah ini menjadi upaya penting untuk mengurangi risiko banjir musiman dan rob di kawasan pesisir utara, seperti Muara Angke, Pluit, dan Ancol Barat.
Infrastruktur Tanggul dan Upaya Pencegahan Rob
Pemprov DKI Jakarta juga memperkuat tanggul pantai sepanjang 28,27 kilometer, dengan 10,73 kilometer di antaranya telah selesai dibangun. Tanggul ini berfungsi menahan air laut agar tidak masuk ke kawasan permukiman padat penduduk.
“Dengan sistem tanggul, pompa, dan peringatan dini yang terintegrasi, kami berusaha memastikan warga Jakarta lebih aman dari ancaman banjir dan rob,” tambah Medi.
Belajar untuk Kesiapan Bali ke Depan
Melalui kunjungan ini, DPRD Bali berharap dapat mengadaptasi model pengelolaan air DKI Jakarta ke dalam konteks daerah. Bali sendiri memiliki tantangan topografi yang berbeda, namun ancaman bencana hidrometeorologi tetap perlu diantisipasi.
“Kami akan pelajari lebih dalam mekanisme digitalisasi dan kesiapan personel yang diterapkan DKI. Harapannya, Bali dapat mengembangkan sistem yang relevan dengan kondisi daerah,” pungkas Ketut Nayaka.















