BPBD DKI Jakarta: Temuan Mikroplastik di Air Hujan Jadi Peringatan Dini bagi Warga
JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menegaskan bahwa temuan mikroplastik dalam air hujan bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan menjadi peringatan dini bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Pencegahan BPBD DKI Jakarta, Rian Sarsono, menjelaskan bahwa temuan tersebut harus disikapi secara bijaksana agar mendorong perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih ramah terhadap alam.
baca juga : Ibu Negara Brasil Kunjungi SPPG dan SD di Jaktim, Lihat Siswa Santap MBG
“Ini adalah informasi sekaligus peringatan dini. Jadi jangan disalahpahami sebagai sesuatu yang menakutkan,” ujar Rian di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Dorongan untuk Hidup Ramah Lingkungan
Rian menekankan, masyarakat perlu menerapkan perilaku yang bersahabat dengan alam untuk mencegah paparan mikroplastik yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Upaya itu dapat dimulai dari hal sederhana, seperti tidak membakar sampah secara terbuka, khususnya plastik, serta mengelola sampah dari sumbernya.
Selain itu, penerapan gaya hidup bersih dan sehat juga menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
“Informasi ini sebaiknya kita olah dengan bijak agar terbentuk keseimbangan antara perilaku manusia dengan alam di sekitarnya. Pola hidup bersih dan sehat harus menjadi kebiasaan,” kata Rian menegaskan.
Peneliti BRIN: Temuan Mikroplastik Jadi Alarm Kondisi Lingkungan
Sementara itu, Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, menyampaikan bahwa temuan mikroplastik tersebut sebenarnya bukan hal baru. Ia mengungkapkan, penelitian sejak tahun 2018 telah menunjukkan adanya partikel mikroplastik di udara dan air hujan.
Menurutnya, hasil penelitian itu harus menjadi alarm bagi masyarakat tentang kondisi lingkungan saat ini, terutama kualitas udara yang dihirup setiap hari.
“Temuan ini menjadi pengingat bahwa udara yang kita hirup tidak hanya mengandung polutan konvensional, tetapi juga mikroplastik yang berasal dari aktivitas manusia,” jelas Reza.
Seruan untuk Meningkatkan Kesadaran Lingkungan
Reza menilai, kesadaran masyarakat terhadap dampak mikroplastik masih rendah. Padahal, paparan jangka panjang dapat mempengaruhi sistem pernapasan, pencernaan, dan bahkan memicu gangguan metabolisme. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi pencemaran plastik.
baca juga : Hujan Angin, 4 Ruas Jalan di Jakarta Terendam Banjir
BPBD DKI Jakarta dan BRIN sepakat bahwa temuan mikroplastik ini harus menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan lingkungan dan kebijakan pengelolaan sampah di perkotaan. Dengan perubahan perilaku dan kebijakan yang konsisten, risiko pencemaran dapat ditekan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi warga Jakarta.















